Label

Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2012

RINTIHAN DI PUCUK GUNUNG

Kembali melangkah....
ya! itulah pilihan terakhir... setelah badai dan kabut turun, berangsur-angsur siluet putih melintas di ujung timur. memanjang, berantai dan berarakan. menghantarkan sang kabut dan angin yang tiba-tiba riuh untuk kembali tenang. air keringatpun berubah menjadi buliran salju, menggumpal dan mengeras.. oksigen menipis, nafaspun mengerak berdahak tak beraturan.
sejenak aku menenangkan diri, bersandar dibatu putih tertata rapi natural, membentuk garis granit yang mempesona, garis-garis retak, melebar kekiri, mengembang...

Ahhh... perjalanan ini semakin sulit, sulit dilalui. berkali-kali aku terjatuh, terperosok, kini badaipun menantangku, bergerombol lagi !.. perjalanan ini seakan tanpa ujung. Tiap lorong yang selesai dilewati akan berganti lorong-lorong lainya. Setiap liku, cerukan, tikungan, punggungan telah berhasil ditempuh akan ada Puncak baru yang harus dilalui. lebih tinggi... tinggi... dan semakin tinggi.

Akankah ini akan berujung.....???
padahal... aku hanya mahluk lemah, kecil... dekil.. orang-orang pun tak pernah memandangku.aku mungkin hanya seonggok daging yang tergeletak dipinggir jalan. 

Angin kembali tenang.. kabut pun hilang, tiba-tiba. Sepertinya Tuhan membuka jalan untukku. menawarkan harapan. menawarkan semangat untuku. seperti menawakan segelas coklat panas ditempat ini.. h h h, Tuhan menawarkan segelas coklat panas???(edan). Dari sini aku melihat pucuk-pucuk kekuatan yang menjulang.. tinggi nan kokoh. Aku... harus melangkah.. tidak disini tempatku.. bersama batu-batu dan batangan pohon kering!
Satu langkah dua langkah.... tiga ...empat.. tak terasa aku berjalan ditempat sunyi ini. menyusuri batu-batu terjal.. melewati tanah merah yang licin...dua punggungan lagi.. aku sampai.
oh Tuhan... nafasku semakin berat..beban dipundaku seakan bertambah, terus dan terus bertambah. kaki-kakiku mungkin tak kuat lagi untuk sampai di batu HItam itu.? Lantas untuk apa aku berada disini??. kenapa tidak aku lanjutkan??

Air ini... seakan cipratan surga yang mengguyur tubuhku. satu teguk membasahi tenggorokan, dua teguk.. terasa basah perut ini. kenapa rasa air ini tidak dapat aku temukan selain ditempat ini.. padahal air ini bersumber dari cerukan yang menyimpan sedikit air hujan. tanpa perasa, pewarna, gula ataupun lainya. air ini seperti air susu ibuku... memberiku kehangatan disaat aku kedinginan  diwaktu hujan tiba. memberikan rasa kenyang saat laparku ditengah malam,  sehingga... waktu itu aku harus menangis untk membangunkan ibuku..
tiba-tiba aku rindu ibuku... seperti apa kabarnya saat  ini?? bapaku??
tiba-tiba aku ngelantur... mengigau, suhu tubuhku tidak normal tiba-tiba terasa panas... disni kan dingin!. kekhawatiran bertambah karena faktor kematian terbesar pada pendaki sedang mendekat kearahku.. jari-jariku sudah tidak terasa. apakah Hipotermia?? Hipoksia....ataukah ...hanya fikiranku yang tak dapat aku kontrol?.
Disini tak dapat aku temukan apapun..apalagi tempat berlindung,, aku harus tetap bergerak. mengerakan tubuhku. aku harus lari-lari meskipun hanya ditempat. aku harus bisa kontrol diri aku sendiri. Tak mungkin aku menemukan bantuan ditempat ini. mataku seakan membandul, berat.......jika aku tertidur matilah riwayatku.. membeku ditempat ini..
full energi...duh deneng ngantuk... siapa yang akan melanjutkan tulisan ini ???

Selasa, 05 April 2011

DUGO's Adventure: sepenggal kisah di Warung mbok Iyem

DUGO's Adventure: sepenggal kisah di Warung mbok Iyem: "Saat malam beranjak tiba, hiruk pikuk kehidupan di sorjem (ngisor jembatan) sebelah utara stasiun purwokerto mulai bergeliat. warung dadakan..."

Jumat, 21 Januari 2011

sepenggal kisah di Warung mbok Iyem

Saat malam beranjak tiba, hiruk pikuk kehidupan di sorjem (ngisor jembatan) sebelah utara stasiun purwokerto mulai bergeliat. warung dadakan yang ada hanya malam hari mulai ramai di datangi pembeli. beragam menu tradisional yang sederhana sudah terjejer rapi dilapak mbok iyem. mbok iyem adalah salah satu pedagang dari puluhan pedagan yang berdagang makanan pada malam hari. Ia manggkal persis dibawah jembatan. Kontan saja orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan warung sorjem (ngisor jembatan/ bawah jembatan-red).

Disitu semua menu serba sederhana dan murah meriah. Sederhana racikan dan bumbunya, tidak perlu mantra-mantra marketing yang berlebihan. sederhana penyajianya, tidak perlu make up tebal dan bergincu serta bertopeng pada keindahan. Dan yang terpenting tidak perlu bayar mahal untuk mengisi perut yang lagi keroncongan apa lagi dengan uang yang pas-pasan. Menu khas Purwokerto yaitu tempe mendoan, menjadi  salah satu menu faforit yang dicari para pembeli. Karena mendoan ini merupakan kedelai beragi yang selalu nikmat di santap pada kondisi apapun. Konsumenya pun sangat fariatif, mulai dari tukang becak, tukang ojek, pedagang keliling, mahasiswa dan kalangan menengah lainya. tentunya tidak ada konsumen bermobil yang mampir kesini. maklumlah disitu tidak selevel bagi mereka yang suka makan enak ditempat yang enak pula.

saat kami datang, bapak-bapak yang sedang makan langsung mempersilahkan kami duduk. mbok iyem pun langsung melemparkan senyumnya.. sambil bertanya, makan den?? dengan raut yang penuh antusias dan penuh ramah, ia lakukan itu ke setiap pembeli yang mampir kewarungnya. dengan cekatan mbok iyem mengambil piring dan nasi, sayurnya campur-campur?? Iya campur saja mbok. kemudain tak lama ia pun menyerahkan satu porsi nasi dengan aneka sayuranya. Minumnya teh manis apa teh tawar?? teh tawar saja mbok! jawab saya spontan. kamipun menikmati makan malam dibawah sorjem......

Disamping mbok iyem penuh dengan wadah-wdah dan perkakasnya. maklum warung sorjem ini hanya buka ketika sore hingga malam. di pinggir jalan berjejer kendaraan yang parkir untuk makan malam. sebelahnya lagi tampak bapak-bapak yang sedang main dadu sambil menunggu penumpang. tampak keriput sudah kulit mereka.

KESAHAJAAN
hampir rata-rata mereka yang datang adalah para tukang becak dan kaum pinggiran. seperti saya malam itu. meski  sering makan ditempat itu tapi kami tidak menemukan rasa bosan. bahkan rindu jika tidak makan ditempat itu. karena mereka semua penuh kekeluragaan dan kehangatan. bukan saja menu tradisional yang enak di perut tapi kesahajaan mereka yang bikan enak di hati. penuh keakraban. Mungkin karena mereka merasa senasib dipinggirkan oleh sistem dan keadaan. mereka bukan pemalas yang meminta-minta meski tenaga masih kuat. ditengah himpitan kebutuhan yang terus meroket mereka masih berdikari dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. meski pas pasan.
lingkaran kesahajaan ini di perkuat oleh rasa kebersamaan dan serasa sepenanggungan, mereka sama-sama mengerti bahwa mereka susah. susah cari makan, susah cari kerja, susah cari beras, susah bayar sekolah anaknya, susah dan susah-susah yang lain. mereka mengerti bahwa mereka berada dalam lingkaran orang susah. jadi mereka tidak mau mempersusah lagi dalam hal menu makan. Karena makan hanya untuk menyambung hidup bukan lagi hidup untuk makan.

Tak lama isi dalam piring udah dangkal alias ludes tanpa sisa, yang tersisa tinggal rasa kenyang. h h h... sudah kenyang saat nya pulang.. eiittt.. bayar dulu!!! main kabur aja Loe wakkkkk....

Udah mbok! saatnya berhitung. nasi plus ini, ini, ini dan itu dua...????? Rp 4000 den! si Mbok iyem menjawab.  hemmm terima kasih mbok ...


continue.....

Selasa, 14 Desember 2010

IN MEMORIAM SOE HOEK GIE

IN MEMORIAM

Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan dan kebebasaan
...Yang mencintai bumi....

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tergandah dan berkata, kesanalah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi....kembali kepangkuan bintang-bintang....

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara saputangan menahan tangis
Sementara desember menabur gerimis...

Mengenang Wafatnya SOE HOK GIE & IDHAN LUBIS
16 DESEMBER 1969 - 16 DESEMBER 2010 ( PUNCAK MAHAMERU ).



Jumat, 27 Agustus 2010

KAMPUNG LAUT. yang ter ISOlasi yang Termarjinalkan

Perjalanan panjang hampir 4 jam dari pelabuhan penumpang cilacap. kami menyusuri sungai segara Anakan yang luas. tampak hutan bakau yang masih sedikit mengalami kerusakan dan burung endemik hilir mudik hinggap di beberapa ranting mangroove yang ada di sekitar aliran sungai. Tampak juga ditemukan beraneka jenis burung yang mampir untuk sekedar mencari makan di sekitar bakau. burung yang bermigrasi tersebut hanya beberapa saat singgah disitu.

Perjalanan terus dilanjutkan, setelah sekian lama membelah sungai anakan akhirnya kapal bersandar di sebuah perkampungan yang berada di tengah sungai. tampak dua orang ibu-ibu menurunkan hasil belanjanya di kota cilacap. Barang-barang tersebut nantinya akan kembali di jual diwarung-warung miliknya. Barang-barang tersebut berupa kebutuhan pokok sehari-hari. rumah-rumah mereka berada di bibir sungai, tanpak abrasi telah memecahkan beberapa pondasi rumah tersebut. kapal-kapal tua pun bersandar menunggu sang empunya untuk berlayar bersama nya di lautan

kehidupan yang begitu unik dan bersahaja. belum ada listrik dari PLN yang memang tempat yang terisolasi jauh dari peradaban kota. biasanya listrik di hasilkan dengan mengunakan generator atau diesel. tak tampak ada kerisauan di wajah mereka jika sewaktu-waktu air sungai meluap karena sendimentasi sungai segara anakan cilacap ini sudah cukup parah.

setelah beberapa penumpang turun kapal kembali bergerak meyusuri sungai dan membelah riak-riak kecil yang terkadang di iringi dengan lompatan ikan - ikan kecil. nampak kapal berjalan semakin berat dikarenakan kapal melawan arus sungai yang tiba-tiba mengalir sangat deras. pantas saja kapal tepat berada di tengah-tengah pertigaan arus sungai yang bertemu. 
tidak jelas kapan sebenarnya perkampungan kampung laut itu dimulai dan asal muasal perkampungan tersebut. kehidupan masyarakat di sini sebagian besar bergantung pada hasil alam khususnya perikanan. akses yang sulit menyebabkan sarana pendiikan disini sangat minim bahkan terkesan seadanya. walaupun demikian kehidupan mereka sangat bersahaja, saling membantu dan gotong royong antar saudara sekitar masih sangat kental. kesederhanaan kehidupan mereka memang tuntutan karena tidak ada hal yang dapat dijadikan sumber pendapatan lain kecuali hasil dari melaut. 

akhirnya kami tiba di kantor Kecamatan Kampung Laut Klaces. kapal pun bersandar. disitu terlihat bangunan kantor kecamatan yang mengurusi beberapa dusun/desa di kampung laut. Bangunan panggung dengan kayu di bibir sungai agar memudahkan tranportasi. tampak beberapa pejabat kecamatan lalu lalang sedang mengurus administasi entah apa.. 
hening dan damai mataharipun sebentar lagi terbenam. surup bersama terbangya nyamuk-nyamuk yang kian banyak. tampak airpun mulai naik hingga kebatas pondasi bangunan. binatang-binatang mulai keluar dari lubang-lubang persembunyianya. jangkrik mulai berjerit-jerit dan kelelawar mulai berkelebat kesana kemari. hampir rutinitas kehdupan berhenti sejenak untuk menyambut malam. Setelah malam berlalu tanpak beberapa pemuda dan orang tua turun dari kapal jukung membawa lampu petromak. mereka berencana mengadakan pertemuan di tempat tersebut. selanjutnya pun beberapa orang telah berkumpul hingga setengah 11 mereka akhirnya pulang kerumah masing-masing dengan perahu.

sepi pun kembali terasa, seperti tak ada kehidupan. sepi damai dan bersahaja.......
.



Minggu, 01 Agustus 2010

Slamet Mount 06

5 VULCANO

Saat itu kaki kami telah jauh melangkah, terseok-seok penuh dengan cucuran keringat. serasa semakin dingin karena kabut yang turun semakin tebal menutup jalur pendakian kami. Saat itulah adrenalin kami dipacu untuk sampaipada sebuah puncak, puncuk gunung, puncukyang menurut sebagian orang adalah sesuatu yang sia-sia untuk dilakukan. Kegunung berarti mati muda sia-sia. Padahal disanalah kami merasakan kelembutan dan kehangatan dibalik ganas dan tingginya gunung, disanalah kami belajar menghargai hidup, disanalah kami menghargai kebersamaan, dan disanalah kami belajar sebuah perjuangan. Dialam bebas yang membelantara itu telah menciptakan kami menjadi seseorang yang kuat dan menjadi seorang fighter, bukan menjadi manusia manja dan senang memanjakan diri. Dari gunung tinggi itulah kami belajar menghargai takdir dan alam ini.
Disaat tenaga kami telah terkuras oleh keindahan ciptaan tuhan, yang membelantara, yang tanpa batas, yang dingin, dan yang ganas. Ditempat tinggi yang bersahaja lagi teduh itu, kami harus terus berjalan mendaki lereng dan bukit yang semakin terjal terlihat tanpa akhir, semakin jauh kami berjalan semakin berat medan yang harus kami lalui. Sungguh hutan yang rimbun lagi sepi. hanya suara binatang kecil dan lutung yang dapat kami dengar, sesekali kicauan burunpun terdengar sayup-sayup dari balik rerimbunan rumput yang menjulang tinggi dan berakar kuat. Menancap kebumi menyimpan ribuan galon buliran air. Kemudian mengalirkanya ketepaian sungai, meresap kedalam sumur-sumur, sawah dan rawa-rawa. Sehingga setiap mahluk hidup lainya dapat hidup penuh dengan kemakmuran. Seperti itulah sang pendaki, seperti rumput yang menjulang tinggi dan menancap kuat kebumi. Memberi nilai untuk lainya.
Sampailah kami di pos 4 pada pukul 17.00. Setelah kami berjalan lebih dari 5 jam dari pos 1 pendakian. Yang dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak yang masih terlihat landai dan penuh dengan pohon Damar yang gagah menjulang tinggi. Pohon-pohon damar itu penuh sadapan disetiap batang pohonya. Para penduduk sekitar menyadap dan mendapatkan upah sebagai alternatif untuk melanjutkan hidup. Jalan yang berkelok dan menanjak mulai kami lewati, setelah pos pertama. Sampailah di pos dua yang mempunyai selter yang cukup lebar. Sayangnya disitu terkenal angker penuh dedemit. Konon ceritanya dihutan itu adalah tempat pembantaian anak negeri pada jaman belanda hingga kasus DI TII, disebelah timur dulunya terdapat lapangan yang luas. tapi sekarang tempat itu telah berubah menajdi hutan belantara dan pohon Damar yang usianya sudah cukup tua. Dipos dua terdapat mata air yang cukup dekat dari shelter. Sehingga pendaki biasanya mengisi perbekalan air disitu untuk perbekalan sampai diplawangan baturaden. Mata Airnya cukup kecil tapi tidak pernah berhenti mengalir, hal ini dikarenakan vegetasi tumbuhan diwilayah tersebut masihlah terjaga, hingga bebatuan disitupun cukuplah licin. sudah dapat dipasstikan siapa yang mengijakan kakinya disitu, pantat harus siap untuk mencium sang batu kali yang cukup licin.
Setelah Raja dan Edi mengambil perbekalan air secukupnya, mereka mengisi perut dengan sepotong roti ditambah satu sendok selai kacang, satu mangkuk mie instan dan segelas susu coklat, cukup untuk menopang tenaga mereka sampai di pos 4.
Pergerakan akhirnya kembali dilanjutkan. Jalur yang dilewati mulai menanjak dan rimbun. Lumut-lumut pohon bergelantungan dan menjalar kesana kemari. Hal ini menunjukan bahwa usia hutan itu cukuplah tua, vegetasi disitupun semakin beraneka ragam, bahkan keeksotisan bunga liar mekar tanpa ada yang menjamah akan dapat dijumpai diantara gelondongan pohon yang tumbang. Lumut yang mengikuti alur angin, sehingga mirip stalaktit yang tumbuh didalam gua. Kawasan hutan heterogen ini memanjakan perjalanan kami, sehingga nafas yang berat tidak terasa serasa tak terbayarkan. Kami berjalan disebuah punggungan, sementara dikanan kiri terlihatlah lembahan yang cukup curam. Kami persis berjalan diantara lembahan, sesekali naik punggungan yang sempurna tanpa membuat pecahan dan Punggungan baru. Karena memang kontur peta dijalur ini cukup rapat dan melengkung membentuk huruf V,
Sesekali kabut turun menyelimuti jalur. Hos hos.. terdengar suara nafas mereka yang terpenggal-penggal. Seakan carier yang berada dipundak mereka bertambah bebanya hingga membuat perjalanan serasa makin berat. Beberapa kali mereka harus merangkak karena terdapat pohon tumbang yang menghadang ditengah-tengah jalur, ataupun mereka harus melewati jalur tikus yang cukup panjang membentuk lorong seperti gua. Sengaja jalur ini tidak dibuka untuk menambah keeksotisan jalur pendakian ini.
Sejenak mereka istirahat untuk kembali mengatur nafas dan sekedar meluruskan kaki-kaki mereka. Mata mereka tidak pernah diam jelalatan menelisik setiap inci yang ada didepan mereka. Perjalananpun tidak terasa melelahkan karena mereka selalu menemukan cara baru agar mereka tidak bosan disetiap perjalanan. Sementara Raja sebagai guide harus memberikan pelayanan yang memuaskan kepada kawan-kawan mereka. Sekaligus bertanggung jawab atas keselamatan mereka. Cuaca sepanjang pendakian tidaklah menentuk, terkadang kabut turun sangat tebal, tiba-tiba panas, dan tiba-tibapun turun hujan dan petir. Itulah alam yang tidak pernah dapat ditaklukan. Untunglah mereka sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi, sehingga kesalahan dalam pendakian dapat dikurangi. Alam tidak pernah mengajarkan kepada kita untuk bertindak bodoh dengan melawanya dengan kenekatan tanpa safety prosedur. Alam liar tidak akan dapat ditaklukan, kita hanya mengimbanginya dengan mempersiapkan segalanya dengan matang.
Matahari telah malu-malu bercahaya menembus putih tebal sang kabut. Jalur baturaden adalah jalur yang masih jarang digunakan pendaki. Karena jalur resmi berada di jalur Bambangan masuk daerah Mratin Purbalingga. Karena waktu telah sore dan perjalanan tidak mungkin dilanjutkan dimalam hari karena terlalu banyak resiko dan salah jalur hingga tersesat maka pergerakan dihentikan. Dan bermalam dishelter pos 4.
Setelah kami memBuka dome dan membongkar seluruh packingan karier, dan menemukan sebuah shellter yang cukup luas untuk memasang tenda. Kamipun berbagi tugas. Semua bekerja sesuai dengan koridor yang telah ditentukan. Setalah semuanya selesai, dimulai dari perapian sebatas untuk mengusir binatang buas dan penghangat, flysheet antisipasi jika hujan, sleping bag yang sudah tertata rapi, dan juga menu makan yang standar karbohidratnya pas untuk dikonsumsi. Sampailah pada waktu istrihat itu yang kita tunggu.
Si Edi lelaki berkulit gelap, berambut keribo dari lombok yang selalu cuap-cuap dengan logat khasnya membuat rame suasana. Sigura dari lombok, perempuan imut, dia adalah satu-satunya perempuan yang ikut pendakian ini. Budi lelaki pendiam sekaligus misterius dan rizal sosok anak muda yang agresif semuanya dari Gpr Unram sengaja mereka kesini untuk mendaki keagungan gunung Selamet, dengan ketinggian diatas 3000 meter diatas permukaan laut. Gunung slamet adalah gunung berapi aktif yang terkadang masih mengeluarkan magma dan belerang mematikan. Maka setiap pendaki jika ingin melintasi dua jalur yang melewati area kawah keluarnya belerang harus faham betul kapan belerang muncul dan menguap, sehingga kerongkongan tidak akan berasa kering, mual-mual dan disertai pusing. Masker harus disiapkan sebagai salah satu standar keselamatan pendaki. Disamping itu jaket, sarung tangan, dan sepatu standar gunung hutang harus disiapkan. Karena suhu dipuncak pada waktu tertentu dapat mencapai -3 derajat celcius bahkan lebih.
”Gimana ni persediaa air? Gura sedikit khawatir.
”Tenang bos masih ada 10 liter. Cukup untuk sampai dipuncak. Raja menjawab dengan meyakinkan. Sebenarnya 10 liter lebih dari cukup tapi untuk sampai di Plawangan saja. Hanya saja Raja tidak ingin membuat temanya itu khawatir.
”tapi kita harus memanagemen betul penggunaan air. jika masih kurang, nanti kita bisa cari di cerukan sebelah timur dari Plawangan. Sekalian kita full pack buat pergerakan turun, soalnya untuk jalur Guci nanti tidak akan ditemukan mata air lagi. Kalo musim hujan gini pasti banyak air tertinggal dicerukan. Cukup buat mandi kalian bertiga. Tapi kita harus turun kelembahan yang curam, dicerukan bebatuan itu biasanya ada genangan air. Biarpun disitu sudah tidak ada lagi tumbuhan tapi batuannya dapat menyimpan air hujan. Tu si edi udah berapa hari tidak mandi sekalian nanti mandi disana.
”Biarpun tidak mandi, sigura masih suka nempel-nempel terus tu, ha ha.
”Yeee. Enak ja ! aku deket2 kamu kan ada maunya.. inilah karier berat banget, na.. maksud aku kamu yang bawain.
”Sembarangan ja kamu ma senior. Senior lu tu.. si Rizal mambalas dengan cepat,
Setelah suasana mencair dan ngalor ngidul bercanda, akhirnya gerimims menghentikan semua aktifitas kami. Dan terpaksa kita bobok rada cepat pada malam itu. Dan kamipun berdesak-desakan di dalam dome yang sempit kapasitas 4. Malam kian larut, terdengar di sebelah kanan kiriku suara dengkuran yang saling bersambut hingga aku terjaga dari kegelapan. Aku melongok keluar, ternyata hujan telah berhenti dan langit yang cerah memperlihatkan bintang yang membentuk gugusan layang-layang. Tapi diluar sangatlah Sepi dan sunyi, sesunyi jiwa dan perasaanku yang merindukan seseorang untuk hadir saat itu..... sedikit aku pejamkan mataku untuk menilik kembali goratan wajahnya yang tersimpan dibalik hati. Tapi..... aku tau kau bukan untuk diriku..... ah aku buang semua itu bersama hilangnya suara binatang dihutan ini.
Aku terbangun setelah panas matahari merobek dinding-dinding kabut dan menembus cover dome yang berlapis. Dan akhirnya aku keluar, mempersiapkan segelas susu coklat, dan sebatang rokok. aku duduk dipotongan kayu yang telanjang karena ulah tangan manusia. Aku melihat ke arah barat yang luas. Dan ternyata indah.... luar biasa tanpa batas. Aku merasa bahwa diri ini sangatlah kecil dibandingkan dengan alam ini. Manusia sangatlah dzalim jika mereka sombong menganggap dirinya adalah orang yang paling dibanding lainya. Manusia tidak pernah sadar bahwa mereka tidak akan mampu menaklukan alam ini, sebelum manusia dapat menaklukan nafsu diri mereka sendiri. Dan kami kemari bukanlah untuk menaklukan alam ini. Tapi kami mendaki adalah untuk menaklukan emosi dan egoisme pribadi. Petualangan kami bukanlah untuk memusuhi musuh kami, tapi untuk peduli pada musuh-musuh kami. Kami adalah minoritas yang survive diantara mayoritas yang mencibir kami. Mereka mencibir dan mengangkat dagu mereka karena mereka tidak pernah tahu dan mengalami apa yang para petualang dapatkan dialam liar ini.
Sambil menghangatkan badan dibawah sinar matahari yang meluncur runcing melewati celah dedaunan. Aku menyalakan sebatang rokok yang menemaniku sejak dahulu aku kecil, ditambah secangkir coklat panas, telah membangkitkan kembali adrenalin kami untuk menyatu dan melebur dengan hutan ini. Alam ini telah mendidik kami. Menjadi Mandiri, mental yang kuat dan rasa percaya diri yang penuh, telah mengalir dalam darah kami. Keganasan alam ini telah mengajariku kesabaran, serta kecepatan dan ketepatan dalam pengambilan setiap keputusan. Karena alam liar ini akan melibas dan menghancurkan, jika kita tidak dapat berfikir dengan cepat dan tepat. Yang dibutuhkan bukan saja kepercayaan diri namun juga kepandaian dalam menganalisa kondisi yang setiap detik dapat berubah-ubah.
”eeh bangun pagi betul kamu ja?? Gura bangun pertama, dan Budi terlihat menggeliat setelah mendengar percakapan kami.
”coklat panas nih mau? Lumayan buat penghangat, waduuuh gila semalam tidur pada niup terompet kenceng-kencengan.
”Ngorok maksud loe?? Ha ha.. kebiasaan Bang, Budi dan Edi tuh. Kalo ga ngorok mereka tidak bakalan tidurnya kaya sekarang. Lihat aja tuh bang... udah siang gini masih ngelingker di dome.
”hemmm nikmat sekali air ini. Karena untuk membuatnya saja kita butuh perjuangan. Rasanya sangat berbeda ketika kita hanya tinggal bayar dicave. Rasanya lebih dari sempurna,
”mau dunk bang he he.. ya iyalah disini kan uang tidak laku. Tidak ada lagi strata sosial ditempat ini. Yang ada ya kerja sama. Betul??
”betul betul betul...
”eh gelang prusik itu bukan dari orang yang spesialkan?? Kalo bukan berarti aku harus memilikinya. Hayoo sini, aku tuker deh dengan gelang dari baduy ni asli dari akar.
”boleh. Mana gelang kamu?
”waduh ketinggalan di sekre berrti bang, di tas tidak ada.
”berarti kalo gitu.. aku ngsihnya pas kita turun nanti. Soalnya tidak ada jaminan kalo kamu tidak bohong. Ha ha
”alah abang ini. Ya udah kalo gitu. Aku bangunin yang lainya dulu bang udah siang.
Suasana hutan ternyata sedikit dapat melupakanya. Melupakan kekasih yang selalu ia gandrungi. ”ternyata sedikit demi sedikit aku bisa melupakanya.” Akhirnya packing dan bergerak ke Plawangan kembali dilanjutkan.
Dari jalur ini nanti kita akan bertemu dengan jalur Kali Wadas. Dari pertigaan tersebut nanti sudah kita temui bunga abadi edelweis sepanjang jalur hingga area camp Plawangan. Bunga endemik ini berwarna putih salju, berbulir kecil dan bergerobol membentuk gugusan yang indah. Daunya berwarna hijau muda dan bertulang kecil, membentuk lengkungan yang meruncing mirip jari-jari Rumini. Bunga unik ini hanya tumbuh diatas ketinggian 3000 MDPL. jenisnyapun bermacam-macam digunung lain bunga edelweis berwarna kuning cerah. Sebelum masuk pertigaan, buah strowberi hutanpun akan ditemukan tumbuh liar bersama-sama rumput yang setinggi dada orang dewasa. Buahnya berwarna merah darah, rasanya sedikit asam, ketika memetik buah ini harus hati-hati karena tangkainya berduri dan biasanya bergerobol diantara semak-semak yang tumbuh diantara lereng jurang. Bisa-bisa jika kurang hati-hati kaki akan terperosok dan tergelincir masuk kejurang yang cukup dalam. Dari pertigaan jalur baturaden-Kaliwadas pergerakan tinggal sekitar 15 menit untuk sampai dipelawangan. Anehnya disitu justru banyak ditemukan burung-burung, dari yang berukuran kecil mungil hingga yang berukuran burung dara. Burung rajawalipun biasa berputar-putar lepas diangkasa. Meliuk dan mengepakan sayap dengan liar. Sayangnya jenis burung ini sudah sangat terbatas jumlahnya.
Setelah semalam diguyuir gerimis daitambah kilatan dan petir yang terus menyambar-nyambar sekitar pukul 03.00 dini hari hujan berhenti dan langit terlihat cerah kembali. Bintangpun telah kelihatan seperti semula. Raja terbangun karena tetesan air jatuh tepat di dahinya. Ternyata dome yang telah di tambah satu flysheet masih tembus. Apalagi udara dinginya pasti akan masuk jika tidak ada fleysheet itu.
Raja mengambil botol air dan peralatan masak. Setelah memasukan air dalam nesting dan menyalakan kompor ia memasak air untuk bekal perjalanan kepuncak nanti. Meskipun hujan sudah berhenti ternyata petir masih sesekali menyambar dan garis putih vertikal jatuh memciptakan suasana yang heroik.
Rizal mulai bergerak-gerak kakinya, ternyata sb yang dipakainya telah tergulung kesamping menutup kaki si Edi. Pantesan saja Rizal selalu merasa kedinginan. Daripada kedinginan lebih baik Raja membangunkanya sekaligus membantu menuangan air yang telah mendidih dalam tabung khusus agar air tetap terjaga kehangatanya.
”dikasih apa nih bang airnya? Masa air putih. Rizal mencoba menawarkan alternatif bagi raja.
” terserah selera kamu pa zal kalo memang mau.
” oya zal kalian bawa oxycan kan? Antisipasi nanti kalo ada apa-apa. Mudah-mudahan hari ini cuaca mendukung. Kalo nanti pergerakan bisa dimulai minimal pukul 6 cuaca masih bersih dipuncak. Perjalanan dari sini kira-kira dua sampai tiga jam. Satu jampun sampai sih tapi melihat kondisi temen2 kayanya kita harus berangkat pagi. Biar nanti bisa berjalan dengan pelan dan aman.
”apa saya bangunkan saja mereka bang? Biar sekalian packing. Kita juga ngejar sun set neh, masa jauh jauh tidak dapat moment di puncak tertinggi dijawa tengah.
”nanti ja. Mereka terlihat sangat kelelahan. Di 3 punggungan terakir tadi medanya sangat menguras tenaga. Mirip jalur bukit penyesalan di Rinjani zal. Lagian masih sedikit gerimis biar mereka selesaikan mimpinya dulu. Mungkin sekarang mereka sedang memimpikan tidur berendam di air hangat. Hiks.
”susah bangunya bang. Butuh sejam buat mereka melek. Pas kalo kita mulai ganggu tidur mereka mulau dari sekarang. He he
suasana didalam dome sangat kontras dengan rumini yang sedang menghabiskan malamnya ditempat hingar bingar. Berjingkrak-jingkrak, kadang manggut-manggut kadang juga ngelantur omonganya. Music yang berfolume keras telah membuat tuli jika ada nasehat yang masuk ketelinganya. Ia menikmati kehidupanya tanpa memperdulikan orang lain.
”pukul 03.30 mereka memulai packing segala perlengkapan yang ada. Tidak ada yang tertingal bahkan satu bungkus permen. Cahaya mulai terlihat memancar dicelah batu yang menjulang. Merekapun percepat aktifitasnya dengan tetap menahan dingin. Sebagai pemanasan mereka merenggangkan otot-otot kaki dan tangan, tidak lupa bagian kepala dan muka pun turut direnggangkan dengan memutar dan menganggukan kepala. Setelah selesai. Semua carier telah siap dipunggung masing-masing. Senter, masker dan sarung tangan telah dipersiapkan. Tidak lupa air dan makanan ringan telah ditempatkan pada posisi yang paling mudah untuk di ambil sehingga tidak perlu membuka seluruh isi carier.
Raja memakai sepatu tracking warna coklat berjinggel, dibungkus guiter menutup hingga betis, berjaket khusus, carier yang tertata rapi dan seimbang. Tidak lupa rain coat telah dipersiapkan jika sewaktu-waktu terjadi hujan yang tiba-tiba. Semuanya telah bersiap. Raja sebagai guide berada dipaling depan. Dibelakangnya Edi, Gura, Rizal dan Budi. Mereka berjalan meninggalkan plawangan dan telah melewati batu besar pertama yang merupakan tanda jalur ke arah puncak itu tertuju. Selanjutnya sebagai penunjuk arah jalur hanya tumpukan batu kecil yang bertata tiga susun atau empat. Seterusnya hingga kearah puncak 3428 mdpl.
Sepuluh menit pertama kondisi tubuh belum beadaptasi dengan sempurna, ini telihat dari gura dan rizal yang nafasnya sedikit berat dan hidungpun meler seperti pilek dikala musim hujan. Rajapun seperti itu. Karena memang oksigenpun sudah menipis pada ketinggian seperti itu.
”Budi. Air-air haus neh..
”sungai tuh bawah edi menimpali permintaan budi dengan meledek. Akhirnyapun edi memberikan botol air yang telah dipersiapkan. Tiba-tiba geduprak suuuerrrr.... apa tuh.
Ternyata senter Raja yang dililitkan di carier terlepas dan akhirnya terjatuh berantakan ketika sedang menarik Gura karena medan yang mulai sulit, alat penerang itu berhenti ditempat yang tidak bisa dipungut kembali. Karena arah kanan kirinya adalah medan curam dengan batu yang ketika diinjak akan runtuh dan menyeret kebawah. Untung jika tidak terguling dan masuk kedalam jurang. Tidak akan ada yang menemukan jika itu terjadi. Karena sepanjang mata memandang hanya hamparan batuan vulcano dengan jurang jurang yang mengerikan.
”sudah tidak apa-apa. Lanjutkan saja perjalananya. Tidak bisa diambil lagi. Ini pegang tali weebingnya nanti aku tarik keatas. Raja melemparkan tali untuk menopang sebagai pengaman agar ketika ada yang terjtuh maka tali itu telah mengait ketubuh mereka. Track yang dilewati memang lebih parah dari bukit penyesalan milik gunung rinjani di lombok. Hanya jarak yang tidak terlalau jauh yang membedakana.
Sebelum sampai pada puncak bayangan terlihat dari celah celah bebatuan menyembul mengepulkan asap belerang yang terasa hangat, warnanyapun berbeda dari celah satu dan lainya. Ada yang putih pekat, kuning, hijau dan yang terparah adalah jika asap itu telah berwarna hijau kehitaman. Maka itu harus dihindari.
”Ja. Sunset sudah muncul, kita belum sampai puncak nih?
”ambil saja gambarnya sebagai dokumentasi. Itu yang sebelah paling timur, diantra celah batu vulcano yang membentuk dua tanduk sunsetnya sempurna”. Raja mengarahkan jari telunjuknya kearah timur, Memang dari arah itu sunset terlihat sangat sempurna, garis cahayanya terlihat terang dan membawa nilai warna lainya, misalkan merah, orange, hijau muda, biru dan kuning. Padahal 10 menit lagi sampai dipuncak. Sayang matahari telah keluar terlebih dahulu,
’rizal mengeluarkan kamera dan mengambil beberapa posisi. Dan budi membantu memasukan kembali kamera kedalam body pack yang berada dipunggung rizal.
”oke!! Kita lanjutkan perjalanan. Beberapa menit lagi kita sampai. Jika takut mual masker kalian jangan lupa digunakan.
Perjalanan yang benar-benar membutuhkan konsentrasi, karena medan yang dilalui telah menciptakan garis vertikal, jka tubuh tidak dapat menjaga keseimbangan maka tubuh akan bergoyang kekanan ataupun kekiri. Ditambah lagi setiap bebatuan yang diinjak akan longsor kebawah, menyeret ataupun batu akan membahayakan rekan yang dibawahnya.
”rock rock....... Gura memperingatkan bahwa ada longsoran batu besar yang persis diatas Edi. Untungnya edi mendengar teriakan diatasnya sehingga ia cepat-cepat menghindar. Batu itu pun mengenai gundukan batu lainya, dan setiap batu yang terkena getaran batu itupun akan retak, dan longsor kebawah dan begitu seterusnya. Hingga tekanan ringan yang akan menghentikan longsoran batu itu. Nampaknya hujan yang mengguyur semalaman telah menyebabkan batuan diatas puncak itu bergeser dari tempat semula sehingga batuan tersebut sangat rapuh. Setiap inci pergerakan mempunyai makna, setiap langkah adalah semangat untuk mencapai puncak, meski nafas telah berat, kaki telah letih, dan resiko yang mereka ambil adalah hidup atau mati, jika mereka melakukan satu kesalahan yang fatal maka akibatnya seluruh tim akan dapat merasakan dampaknya. Bisa tersesat, terjatuh kejurang, terkena hipotermia, pernafasan akut dan tidak berfungsinya jantung untuk memompa darah keotak.
Ini bukan taruhan antara hidup atau mati. Ini adalah kematangan berfikir dan keberanian dalam mengambil keputusan dan resiko. Dissaster management menjadi menu wajib bagi seorang petualang. Sehingga ketika terjadi keadaan darurat dan mendesak mereka tidak lagi mengalami kekacauan berfikir karena tidak tahu apa yang hendak dilakukan.
Di tugu surono yang merupakan in memoriam beberapa mahasiswa yang meninggal saat terjadi tragedi mapagama. Beberapa orang meninggal dan belum ditemukan jenazahnya. Saat badai dan hujan dipuncak terjadi mereka tercerai berai dan mungkin terjatuh kejurang kawah ataupun entah tersesat kemana.
Dipuncak yang tinggi itu kekuasaan tuhan benar2 telah ditunjukan. Diantara batuan vulcano itu manusia terasa kecil. Kecil karena keegoisan, nafsu dan perjalanan yang panjang melelahkan, penuh dengna prjuangan dn strategi agar mereka dapat sampai pada sebuah puncak. Tapi dipuncak itu udara semakin dingin dan kabut beberapa kali turun. dan kepuasan sebuah puncak tertinggi itu hanyalah untuk berapa detik mereka rasakan, memang bukan untuk itu mereka meraih sebuah puncak adalah untuk menghargai kehidpan ini dengan alam. Puncak adalah hegemoni setiap manusia untuk dikalahkan. Setiap detik adalah waktu yang sangat berharga. Setiap detik adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Perjuangan pada dasarnya belum berakhir sebelum kita dapat beradaptasi pada sebuah puncak. Jika tidak kepuasan itu akan berubah menjadi sesuatu yang mematikan bagi mereka semua.
Rizal bergegas mempacking kembali minuman yang tadi dikeluarkan. Setelah berdoa mereka bergegas berjalan menysuri jalur untuk turun. medan yang terjal dan melewati berapa kawah untuksampai pada jalur guci merupakan tantangan tersendiri. Setelah melewati segara pasir mereka menyusuri jalur setapak yang merupakan pecahan yang terjadi bekas adanya erupsi. Puncakan itu terputus sebelum memasuki jalur guci. Udara tiba2 sangat berat karena beleranga tiba2 mnyembur keluar degnan cepat. Masker yagn digunakan tidak dapat menahan aroma khas yang membuat tenggorokan bisa berasa kering itu

Rizal batuk batuk, mukanya memerah dan perutnya sedikit mengeras, ia menahan aroma yang jarang diterima hidung. Cepat kita bawa kearea yang steril. Rizal masih kuat berdiri dan berjalan kearea yang bebas dari asap belerang. Hah serasa ditusuk-tusuk jangtung dan paru-paruku, rizal membuka masker dan meminum air mineral, hah luar biasa.... aku harus berdiri dan melanjutkan perjalanan. Ini ada aroma kopi taburkan dimasker kamu, ini berfungsi untuk mengurangi bau yang menusuk-nusuk itu, raja sambil menyodorkan bungkusan hitam ketangan rizal
Oke kita lanjutkan, dan rizal untuk sementara biar carier aku yang bawa. Untuk turun di jalur ini kaki kalian harus disilangkan, jangan berjalan lurus kedepan jika tidak ingin tubuh kamu terlempar kedepan. Hati-hati kanan kiri jurang, dan banyak batu besar tertutup pasir. Guide kita hanya bekas longsoran bekas turun pendaki lainya. Jadi harus hati-hati dan faham. Cuaca disini dapat merubah gundukan pasir dan jejak dengan cepat, jadi harus konsentrasi.
Setelah melipir melingkar dipunggungan terakhir mereka harus turun dijalur pasir yang tebal, jika tidak terbiasa pertama menapakan pasti akan takut dan terseret tanpa rem. Tapi dua tiga langkah akan berubah menjadi sesuatu yang menegangkan sekaligus mengasikan. Tidak ada pembatas dan pengaman jalur yang ada hanya sisa jejak para pendaki yang telah lama ditinggalkan. Tempat itu seperti kampung tua yang telah lama ditinggal pergi para penduduknya. Sepi sama sekali tidak ada kehidupan, tidak ada suara binatang, siulan burung ataupun gemrecit suara jangkrik. Yang ada hanya suara angin yang mendesir dikuping, sisa bekas semburan magma yang membeku, pasir dan batuan yang berasal dari lumpur panas yang telah membeku.
Jalur ini rawan dengan kecelakaan, jalan menyamping dan berjajar atau berurut bergantian mungkin metode terbaik untuk menghindari kecelakaan antar pendaki.
Setelah meluncur sekitar 15-25 menit berarti habis jalur ini. Dilanjutkan dengan padang batu yang luas, keras, lancip dan guide jalur hanya tumpukan batu kecil yang tinggal satu atau dua, hah harus eksra ne agar tidak tersesat. Raja sedikit hawatir jika kabut yang tebal turun dan biasanya akan lama menutup penglihatan. Artinya mereka harus berjalan dengan filing tanpa bisa melihat radius 10 meter.
Tiba-tiba sruuut.... rizal terpelanting kekanan dan tepat berhenti diteoi jurang. Sruuuuut sekali lagi sigura melorot dengan pantatnya sebagai tumpuan. Woi.. awas batu... dari atas tampak menggelundung gerombolan batu. Untung tidak mengenai si Gura. Hah menegangkan. Raja tersenyum kecut dan ketar ketir, tapi rizal hanya lecet kecil dan gura pun demikian. Syukurlah tidak terjadi hal lainya yang diluar kemampuan mereka semua untuk dapat berbuat banyak.
Dengan sedikit nyeri rizal dan gura berjlan sedikit tertatih. Tumpuan pada pergelangan kaki menjadi berat dalam kondisi turun dikarenakan otot bekerja dimulai dari tumit hingga pergelangan tempurung lutut, bekerja ekstra untuk menahan hentakan langkah kaki yang terus menerus.
Dari barat kabut tebal merayap kearah selatan, ini bertanda jalur mereka akan tertutup oleh kbut. Mereka hanya berharap pada angin dan keajaiban alam agar sang angin dapat membawa kabut itu beralih ketempat lain. Untuk semuanya kita berjalan jangan terlalu berjauhan, resiko tersesat nanti. Soalnya penunjuk arah banyak yang hilang kita tidak tau jika kabut itu nanti menutup pemandangan kita. Kita hanya tau jalur dari tumpukan batuan tersebut dan tolong jika ada batu yang hlang kita tambahkan dua atau tiga batu lagi sebabai pertanda. Raja meminta kepada empat kawanya agara berhati hati dan saling berdekatan.



continue.....