Label

Selasa, 14 Desember 2010

IN MEMORIAM SOE HOEK GIE

IN MEMORIAM

Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan dan kebebasaan
...Yang mencintai bumi....

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tergandah dan berkata, kesanalah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi....kembali kepangkuan bintang-bintang....

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara saputangan menahan tangis
Sementara desember menabur gerimis...

Mengenang Wafatnya SOE HOK GIE & IDHAN LUBIS
16 DESEMBER 1969 - 16 DESEMBER 2010 ( PUNCAK MAHAMERU ).



Jumat, 10 Desember 2010

DUGO's Adventure: CUCI TANGAN negara maju pada perubahan iklim

DUGO's Adventure: CUCI TANGAN negara maju pada perubahan iklim

CUCI TANGAN negara maju pada perubahan iklim

Isu perubahan iklim yang sudah lama masuk dalam salah satu agenda protocol Kyoto nampaknya hingga hari ini belum menunjukan perubahan. Justru angka kerusakan terhadap lingkungan lebih tinggi dan signifikan. Agenda jangka panjang (asia) terhadap perubahan iklim terkait mitigasi, mekanisme pelaporan dan verifikasi terhadap reduksi gas rumah kaca masih berjalan lambat.

Seperangkat negosiasi di Bali beberapa tahun yang lalu, menghasilkan beberapa kesepakatan antara Negara maju dan Negara berkembang. Dalam hal ini adalah transformasi teknologi dan adaptasi. Sementara perihal negosiasi penurunan emisi di Negara maju masih alot dan penuh dengan perdebatan.
Pada hari ini di Meksiko perdebatan itu sedang kembali berlangsung dalam konferensi perubahan iklim. Perdebatan yang sama alotnya ketika di Bali menjadi momok bagi kita, betapa Negara-negara maju semakin terlihat cuci tangan terhadap perubahan iklim yang saat ini terjadi. Kehancuran ekosistem (ecoside) oleh egosentris Negara-negara maju nampaknya tidak terelakan

Kewajiban Negara-negara maju sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar masih berbelit untuk menurunkan kadar emisinya, saat ini Negara maju hanya mampu menurunkan kadar emisi gas rumah kaca baru sekitar 18% dari 40% yang ditargetkan. Sementara Negara berkembang yang sebetulnya menjadi kambing hitam atas isu perubahan iklim harus dengan legawa, bahwa mereka berkewajiban memperbaiki kondisi hutan dan pendukungnya.

Padahal Negara maju sebagai penyumbah terbesar emisi gas rumah kaca berkewajiban untuk ikut serta menyelamatkan bumi dengan menyuntikan dana bagi proses adaptasi dan transfer teknologi guna penangan gas rumah kaca. Karena memang diakui di beberapa Negara berkembang factor financial masih menjadi kendala guna rehabilitasi hutan yang hancur. Kehancuran hutan dibeberapa Negara berkembang pun didasari pula oleh salah satu sifat egosentris Negara-negara berkembang yang mengeruk hasil hutan di Negara berkembang kemudian berbondong-bondong diangkut kenegaranya tanpa sisa, yang tertinggal hanya ampasnya (tailing), sementara Negara-negara berkembang tetap saja menjadi miskin dan hutan merekapun terlanjur hancur gara-gara kerakusan Negara maju. Polemik dan mata rantai yang menjadi siklus perubahan iklim di bumi ini tidak serta merta akan terputus, jika sifat kerakusan/ egosentris mereka tetap kukuh seperti saat ini. Dan kini mereka (Negara maju) dengan seenaknya menuntut pengembalian ekosistem. Padahal siapa yang merusak?? Negara pemodal lah yang mengawali kerusakan yang telah mewabah ini.

Rabu, 01 Desember 2010

SERAT CINTA

dedicated to: ...... HR&ampe L

sudah terlalu lama... kalo saya berdiam diri menatapmu.......
merangkai kata, merangkai kberanian dan merangkai bunga putih untuk  mu.....
berharap bahwa harapan itu ada....
berharap bahwa ........
........... bahwa engkaulah bidadari yang dapat aku pilih .....
dan engkaupun masih tetap bisa memilih di antara pilihanmu ,,,,,

karena aku tahu... saya hanya salah satu dari ribuan pilihan itu ,,,,,,

pilihan yang akan menjadi putusan mu kelak.......
saya sadar dengan kesadaranku,,,,, bahwa salah satu harapan itu ada dalam salah satu pilihanmu...
biarpun itu sebatas pelapis kulit ari....
yang dengan mudah terkelupas dan sobek.....
terluka ..... dan berganti dengan sel-sel kulit yang baru....

itulah pilihan... saya sadar......

saya hanya mampu mengasihi dalam hati.......
yang diejawantahkan dalam pola dan laku ....
dan itupun banyak terjadi keliru....
tapi ... saya tak berharap... jika pilihan saya tentang mu itu keliru...
yang indah,,,,,,
yang bulat sperti matamu....
yang putih,,,,,,,,,,
yang anggun........
yang merekah seelok bibirmu.....

ketika berucap, bertutur dan bersuara...
tanpa gamang
lantang....

ketika memandang dan menatap..
tajam
tanpa ragu....
dan selalu fokus.....

saat itulah....
aku menyebutmu indah..... anggun..... dan ....
saat itulah... saya berganti aku
yang tak mampu bergeming....
ditepi harapan dan pilihan dari mu..

semoga Tuhan meridhai....

Kamis, 11 November 2010

Cerita Lama

Dubrakkk...
h h h... kaget ya..?? cuma mengetes ja..
hummm.... udah ngantuk. pengenya begadang. ga tau juga mau ngapain neh. hemmm....
eh jadi inget sesuatu, cerita masa lalu ketika dunia masih hijau dan usia kitapun masih hijau. imut-imut dan lucu. selucu kehidupan ku saat itu.. sebuah kisah unik saat masih di Sekolah lanjutan Pertama. saat itulah aku mengenali sosok perempuan sebagai sosok yang berbeda, aneh,dingin, bikin debar-debar pula he he..^_*

Rasa yang aneh itu justru malah bikin penasaran tambah menggila. Sehingga hal gilapun aku lakuin saat itu. ga tau kenapa, tapi dorongan untuk melakukanya sangatlah kuat. ya .. mungkin itulah kenapa orang menyebutnya sedang terkena panah asmara. ckkkkk.. (lebay dikit ahhh).
Waktu itu.. masih dalam rangkaian kegiatan pramuka. biasalah salah satu kegiatan ekstra yang ada di sekolahan saat itu. kebetulan waktu itu malam terakhir kegiatan. maka setiap kelompok wajib untuk menunjukan pementasan timnya. Bentuknya bisa drama, tari, nyanyi atau apapun yang penting menghibur dan setiap kelompok wajib menampilkan perwakilanya.

Sebenarnya sih waktu itu aku udah susun ide buat pertunjukan tim ku. pokoknya harus menjadi yang terbaik dan bisa menunjukan kalo tim kita bukan tim yang main-main dan patut diperhitungkan. hemmm idenya waktu itu adalah menampilkan sebuah pertunjukan drama. sebagai ketua kelompok aku susun deh skenario ada peran ini, peran itu, dan peran ini dan itu sekalligus h h h... pokoknya super komplet kayak jamu.

Tapi masalah belum terpecahkan, ternyata salah satu anggota tim tidak berani untuk naek kepanggung, tiba-tiba kakinya gemeteran dan lemes g bisa berdiri.. idiiihhhh kenapa si ini anak,, mungkin di masih belum terbiasa kali ya..kekacauanpun mulai terjadi... waktu udah mepet tinggal satu jam dari waktu yang telah ditentukan. duuuhhhh gimana nehhh...ko malah jadi ribet gene..
hemmm padahal aku udah pengen banget liat si doi dari atas panggung dan dia memberikan senyum manisnya yang >..??? ho hohhh... bikin klepek-klepek dehhh.. trusss kasih aplus standingnya dan .. kasih zun pipi kali ya biar seru..kkikkkkk

tapi kekacauan belum terpecahkan anak-anak justru terpecah gara-gara rasa PD pada lunturrr kaya baju-baju mereka. duh gimana neh??
eaatt tiba-tiba aku melihat gitar tua tergeletak di kantor sekolah. hemm... ini bisa jadi salah satu pemecah masalah kayanya. Tapi....masih ada masalah lagi anak-anak belum ada yang bisa mainin tuh gitar karena masih tabu pada zaman itu ketika kita berkreasi dengan salah satu alat musik ini.

Trus... gimana pemecahanya??..
aku sendiri baru beberapa kali pegang. baru pegang lo, belum genjrang genjreng trus pake tuts A, B,C apa lagi Kres minor mayor. tapi demi menaklukan si doi tak apalah biar suara gak karuan perlu dicoba.. nahhh waktunya daftar neh ke Panitia, langsung aja deh daftar jenis yang akan di pertunjukan : Gitar akustik ala tak karuan. hag hag...tapi kitapun udah sediain alternatif ke dua jika nanti batal di tunjukan. kita udah siapin kaset karaoke dangdut lagu nya bang mansur S. judulnya... (udah lupa)
ttrusss pas tiba giliran.. dag dig dug juga.. gemeter juga, grogi juga..

duhhh.. mikroppon tiba2 mati dan petttt..semua mati....

Sabtu, 30 Oktober 2010

Bahasa DIRI sebagai Pesan DIRI


Eyang: “Elmo, Tolong taruh pisau itu dimeja, nanti jarimu kepotong!”
Elmo: “Enggak Eyang, elmo tidak kepotong”
Sang eyangpun mulai marah dan nada suarapun dinaikan. ”pasti jarimu kepotong nanti…”
Elmo juga lebih marah lagi, “enggak,”! Sambil mempertahankan pisau dengan lebih mendekatkan pisau ketubuhnya.

Dialog diatas adalah dialog antara Eyang dan cucunya. Sang Eyang merasa khawir kalo-kalo pisau yang dipegang cucunya untuk mengupas mangga akan mengenai tangannya. Maka sang eyang dengan bahasa Diri (I Message) mencoba untuk memberi tahu bahwa pisau itu berbahaya dan bisa melukai dirinya (Elmo).

Coba kita perhatikan: pesan kamu (you message) dari sang Eyang selalu cenderung menyalahkan orang yang kita ajak bicara. Benarkah??
Pesan yang hendak disampaikan sang Eyang sangat lah baik namun bahasa yang digunakan justru membuat sang cucu melawan dan memberontak dengan mempertahankan diri dengan sekuat tenaga.

Kenapa?? Karena pesan yang hendak disampaikan tidak sampai, justru yang diterima adalah menyalahkan dan menghakimi. Coba kalo kita ganti dengan kalimat: ”saya lihat kamu pegang pisau buah yang tajam, eyang takut pisau itu akan memotong jarimu”...apa ekspresi yang terjadi Pada Elmo?? Dia akan nampak tidak semarah sebelumnya, bahkan ia akan memandang mata Eyang dan berkata dengan tenang: ”Ah itu Eyang saja yang pencemas”.. kemudian Eyang mengambil pisau ditanganya tanpa perlawanan keras. Elmo lakukan tanpa merasa kehilangan harga dirinya.
Sebenarnya Eyang mengambil pisau tersebut dalam rangka mengatasai ”kecemasan” dirinya. Berarti siapakah yang bermasalah?? yang bermasalah adalah dirinya..

Dari contoh diatas dapat disimpulkan bahwa ”kecemasan” kitalah yang membuat kita berbuat seakan otoritas menjadi milik kita. Sehingga kita lupa bahwa pesan diri kita (I message) cenderung menyalahkan orang lain. Walaupun pesan kita berniat baik tapi jika hal tersebut yang terjadi bukan perubahan. Melainkan keadaan akan terbalik.. runyam-runyam lah suasana karena pesan kita.

”Pesan diri” pada situasi sosial bila tujuan utama kita adalah ”memberi tahu” bahwa kita sedang marah, tidak setuju dan sebagainya perlu kesadaran pola komunikasi yang lebih baik.
Pesan moral yang tersimpan adalah mengubah pola perilaku kita dalam relasi yang penting. Untuk itu kita perlu mengembangkan kepekaan terhadap diri kita sendiri sehingga kepekaan itu akan terbawa kepada hubungan kita kepada semua relasi. Kita akan mampu menterjemahkan kemampuan kita kedalam kondisi yang lebih jelas, tidak menggunakan pernyataan yang cenderung menyalahkan diri atau menyalahkan orang lain.

Coba kita tarik keranah atau ruang kita sering bergerombol selama ini. Kita akan berbicara dalam sebuah organisasi yang mengenal adanya Senioritas. Terkadang otoritas senior tidak pernah memperhatikan pesan diri yang hendak disampaikan kepada Juniornya. Sehingga yang terjadi adalah miscomunication pesan yang disampaika Senior. Karena apa? Karena otoritas senior yang sering membuat mereka lupa bahasa ”pesan diri” yang disampaikan tidaklah tepat. Justru melukai hati dan harga diri para Junior. Benarkah? Mari kita lihat ....

Pada suatu hari sang senior bertemu dengan juniornya. Dan berkata ”kamu sebagai salah satu angggota (baca: Pengurus) tidak pernah kelihatan, aktif ke.... biar bisa mengembangkan organisasi dan jadi contoh adik-adikmu”
Apa yang terjadi?? Sang Junior merasa harga dirinya hilang dan terlukalah hatinya. Sehingga hingga kini Junior tersebut malah tidak pernah kelihatan  lagi ngantor disekretariatnya. Karena apa Junior merasa muak dengan seniornya. Hanya karena bahasa yang disampaikan tidaklah tepat pada kondisi situasi dan psikologi yang diberipesan. Siapa yang salah???

Bisakah kita belajar dan berlatih komunikasi dengan gaya personal kita saat mengungkap pesan ”Diri Saya”.

SERAT ”BIMA BUNGKUS” KARANGAN TJAN TJU AN (Pencitraan Bima terhadap budaya jawa)


Cerita tentang Bima sebagai seorang kesatria yang gagah perkasa telah terkenal dari zaman-kezaman. Kebudayaan jawa sendiri dalam perkembanganya banyak mendapat pengaruh dari luar. Dan pengaruh itu telah memberikan corak dan sifatnya sendiri-sendiri yang khusus untuk suatu masa. Berdasarkan peninggalan yang ada, khususnya yang berupa tulisan.
Sejarah kebudayaan jawa dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu zaman jawa kuno dan zaman jawa baru. Zaman jawa kuno adalah masa dipakainya bahasa jawa kuna sebagai bahasa resmi dan penyampaian pemikiran dan ide-ide pada masa itu. Zaman jawa baru, berdasarkan analogi dari definisi jawa kuno, adalah  masa dipakainya bahasa Jawa baru sebagai pengantar pemikiran-pemikiran. Masa ini adalah masa ketika tulisan jawa baru dikembangkan. Zaman jawa baru berlangsung bersamaan dengan zaman kerajaan Majapahit akhir dan ditandai dengan meluasnya penyebaran agama Islam.
Sejarah kebudayaan sendiri tidak terlepas dari sejarah politik, karena pada umumnya pusat kekuasaan politik memberi arah dan pengembangan sarana kebudayaan. Pusat kekuasaan politik pada umumnya sekaligus merupakan pusat pengembangan kebudayaan. Dikerajaan juga terdapat pusat-pusat kegiatan keagamaan yang pandangan religiusnya mengilhami sejumlah karya seni. Bima sendiri sebagai salah satu tokoh yang terdapat dalam pewayangan banyak cerita yang terdapat dalam serat jawa (dalam bentuk puisi) yang isinya menceritakan tokoh Bima tersebut.
Disamping itu tokoh ini telah menjadi maskot sebuah idialisme seorang ksatria yang mumpuni. Budaya jawa sendiri telah banyak terilhami dari tokoh Bima tersebut. Ini terbuktikan dengan banyaknya cerita yang dikarang oleh sesepuh pada masa dulu.

           Serat  ”Bima Bungkus” Dalam Puisi
Serat Bima Bungkus dikarang oleh Tjan Tju An, di Surakarta pada tahun 1867 J/1936 M. Yang tersusun dalam bentuk puisi, yang ringkas ceritanya sebagai berikut:
Anak Pandu dan Kunti lahir dalam bungkus dibuang kehutan krendawahana, karena tidak ada senjata yang mampu membuka bungkus tersebut. Destarata menyuruh para kurawa untuk memusnahkanya dengan cara berpura-pura membantu membuka bungkus tersebut, namun tidak berhasil.
Dipertapaan Rahtawu Bagawan Abiyasa mendapat pertanyaan dari cucunya. Raden Premadi yang menanyakan keadaan kakaknya yang terlahir  dalam bungkus. Yang telah beberapa tahun belum dapat dibuka. Abiyasa mengatakan kepada Arjuna bahwa saudaranya sedang menjalani karma, ia akan lahir menajadi satria utama, dan akan mendapat wahyu jati.
Keadaan tersebut menyebabkan kegoncangan didunia yang sampai terasa di Kahyangan. Untuk menghentikanya Batara Guru menyuruh Gajahsena (anaknya yang berupa gajah) memecah bungkus tersebut. Serta memerintah Dewi Umayi untuk memberinya teman berupa empat macam warna yang akan melindunginya. Juga memberikan ajaran tujuh macam hubungan antara manusia dan Tuhan. Serta diberitahukanya bahwa sekarang ia dalam taraf martabat Akhadiyat artinya pada tingkat pertama. Masih jauh perjalananya menuju martabat insan kamil  yang merupakan tingkatan manusia sempurna. Dalam perjalannya ia melalui martabat terakhir (martabat wuntat) yaitu permulaan menjadi benih manusia. Pada martabat akhadiyat ia diberi nafsu mutmainah yang berwarna putih, ketika mulai berkembang ia mendapat nafsu supiah yang berwarna kuning. Selanjutnya diberi nafsu amarah yang berwarna merah. Ketika memasuki alam jizim  (alam jazad) ia telah memiliki wujud jasmaniyah. Karenanaya memiliki keinginan makan minum dan bersenggama tidak berbeda dengan hewan.
Bedanya, ia akan diberi budi luhur, namun bila ia menolaknya ia tidak dapat masuk surga, ia akan mengembara pada akyan sabiyah. Ketika telah berada dalam alam misal diberi nafsu aluamah. Kemudian akan melalui alam arwah karena telah dimasuki roh. Ada sembilan macam roh yang masuk, yaitu roh illapi, Robbani, rokhani, Nurani, Rohulkudus, Rahmani, Jasmani, Nabati Dan roh Rewani. Semua itu merupakan badan Hyang Guru yang menggerakakan tindakan manusia. Dalam alam kabir ia telah bersatu dengan sembilan roh (Hyang Guru), ia dipakai sebagai sarana (penampilan Hyang Guru) di Dunia.
Setelah selesai diberi ajaran, Dewi Uma memberinya busana berupa cawat kain bang bintulu berwarna merah, hitam, kuning, putih. Pupuk, samping, gelang, porong, dan kuku pancanaka. Kemudian Dewi Uma meminta diri dengan mengatakan bahwa sebenarnya ia telah menyatu dengan dirinya.
Gajahsena turun dari surga lalu membuka bungkus, kemudian bungkus pecah, karena terkejut keduanya kemudian berkelahi. Gajahsena dipegang oleh Bratasena dan dibantingnya. Jasadnya musnah namun roh hewaninya masuk kedalam dirinya.
Hyang Narada mengatakan bahwa ia adalah anak Pandu yang terlahir dalam bungkus. Kemudian beliau memberinya nama Bratasena dan diberitahu meskipun ia duduk dihadapan Batara Guru ia tetap tidak boleh duduk dibawah dan menyembah. Karena ia penjelmaan Hyang Maya dan disayangi Hyang Manon.
Penampilan Bratasena  terlihat menakutkan, tinggi besar dan gagah. Jika ia berbicara suaranya menggelegar seperti geledek dan kadang seperti singa kelaparan. Kemudian atas permintaan raja Tasikmadu Bratasena diminta mengalahkan raja raksasa Kala Dahana, patih Kala Bantala, Kala Maruta dan Senopati Kala Ranu. Setelah mereka dikalahkan, roh mereka masuk kedalam Bratasena. Dengan demikian sifat dan unsur alam yang empat yaitu: bumi, air, api  dan angin telah menyatu dalam dirinya.
Itulah sepenggal serat Bima Bungkus yang menceritakan proses kelahiran sosok bima. Dalam serta tersebut terdapat unsur-unsur jawa yang masuk kedalamnya. Hal ini merupakan akulturasi budaya, dengan melihat pada corak penampilan serat itu sendiri.

Analisis tentang tranformasi citra Bima dapat dilihat pada pembagian zaman budaya, terdapat pencitraan yang sama namun ada juga yang berubah.
a.       Pada zaman jawa kuna dengan latar belakang Hindu-Budha. Citra Bima sebagai pelindung keluarga, masyarakat, pemberani, tegas, bengis, dan menuruti nasehat keluarga.
b.      Pada zaman Jawa baru dengan latar belakang agama islam terdapat beberapa beberapa pencitraan. Diantaranya: citra yang berdasar karya sastra dan lakon-lakon wayang turunan Nawaruci (serat dewa ruci dan turunanya) adalah sebagai orang suci, insan kamil, pencari kekekalan hidup, penyebar agama islam, dan peruwat. Citra yang demikian tidak didukung oleh citra Bima pada ”boneka” wayang.